Rindu dan Terima Kasih.

Waktu mengakibatkan jarum kecil jam tanganku
mengarah pada angka sebelas
Warna mentari sudah tak sama dari ketika pagi
Janggalnya, Agak-agak laut tak bertiup
Angin tak berhembus, Suasana tersasa sunyi sekali.

Aku merasa sendiri, meski sepasang mata pemberian tuhan
yang sangat luar biasa ini melihat banyak sekali objek
yang benar benar serupa dengan diri

Disuasana yang begitu putih, tak ada warna frekuensi suara
yang saling merebat. Putih, kosong begitu saja.
Aku ingin berkata, tapi nanti setelah aku dan kamu bersua.
Mentak, kata-kataku seperti ini.

Jika memang harus melewati malam, tak apa meski kelam.
Jika memang harus terluka, tak apa meski lara.
Jika itu memang untukmu, Aku memilihmu, meski Rindu.

Tuan putri, semoga kamu tidak cemburu.
Kepada mentari yang selalu temani aku setiap pagi.
Kepada bulan yang selalu bantu aku melayani sepi.
Aku mohon kau tidak iri, juga tidak membenci.
Kenapa? karena meski mereka yang selalu membantuku menemani
Tapi, kamulah yang selalu kuberikan tempat bak ranupani
yang sudah kutata rapih didalam hati.

Komentar